divardha

warna-warni yang lain

>senyum udang rebus

leave a comment »

>”Dari dulu aku pengen tanya sesuatu sama kamu”
“Apa?”
“Bagaimana rasanya jadi bidadari?”
“Haha, itu kan guyonan lawas, kamu masih percaya aku bidadari?”
“Well, kamu sendiri yang bilang begitu. Aku sih percaya aja”
“Hah? kalau aku bilang aku sebenarnya Ranger Pink, kamu percaya?”
“Percaya.”
“Kalau aku bilang aku Putri Athena di Saint Seiya?”
“Percaya. Kan aku jadi Seiya-nya”

Dia tertawa. Wajahnya memerah kalau sedang tertawa, seperti udang rebus. Mungkin, dia adalah udang rebus yang paling cantik.

“Pertanyaanku belum dijawab”
“Yang mana?”
“Bidadari. Gimana rasanya jadi bidadari”
“Rasanya.. emm.. membosankan. Di kayangan nggak ada pria tampan. Adanya di bumi, makanya aku sekarang lagi mampir ke bumi. Oh satu lagi, di kayangan nggak ada sinyal, makanya susah banget mau hubungin kamu”
“Wah ternyata kayangan nggak canggih ya? di sana ada tv nggak? jangan-jangan nonton tvnya masih harus bayar iuran?”
“Haha… emangnya jaman orba?”

Dia tersenyum. Sudah 7 tahun berlalu, tapi senyumnya masih saja menggetarkan.

“Emang kenapa tanya-tanya tentang bidadari? Mau jadi bidadari juga?”
“Gak papa sih, nanya aja”

Dari kejauhan, terdengar sebuah lagu.

dimana kau selama ini, bidadari yang kucari, mengapa baru sekarang kita dipertemukan……”

.: adiwardhani :.

Written by divardha

September 3, 2010 at 5:10 pm

Posted in fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: